Melirik Potensi Kampung Coklat diDesa Genggelang

Administrator 30 Juni 2018 11:54:56 WIB

Desa Genggelang tak hanya terkenal dengan berbagai spot wisata air terjun yang di tawarkan. Namun ternyata Desa Gnggelang juga memiliki potensi lain yang angat besar jika dikembangkan dengan baik. Salah satunya yang baru-baru ini dicanangkan yakni Kampung Cokelat

Bagi sebagian wisatawan desa Genggelang Kecamatan Gangga tentu tidak asing lagi  karena di desa ini terdpat berbagai spot wisata seperti rumah pohon ataupun air terjun.

Namun kali ini penulis tidak akan membahas spot wisata yang ada di Desa Genggelang, melainkan kampung cokelatnya. Selain di Jember, di Lombok Utara juga juga terdapat Kampung Cokelat. Bahkan coklat di Desa Genggelang ini memiliki kualitas terbaik di Indonesia.

Kampung cokelat ini akan dicanagkan di Desa Genggelang,Kecamatan Gangga KabupatenLombok Utara. Kualitas cokelat yang dihasilkan petani Desa Genggelang bahkan sangat jauh dari cokelat yang ada di Jember Jawa Tengah. buah grade a denggan biji plus-plus ini bahkan menjadi yang terbaik di Indonesia.

Pencanangan Kampung Cokelat di Desa Genggelang berawal pada tahun 1990. Saat sebuah perusahaan mendatangai desa tersebut. Perusahaan tersebut membuatkan sertifikat lahan gratis, namun sebagai gantinya masyarakat harus membayar dengan biji kakao.

“Hasilnyapun akan dibeli oleh perusahaa,” ucap Khairil Anwar, Kepala Desa Genggelang.

Tawaran menggiurkan tersebut akhirnya diterima. Sejak saat itu, 80 persen  masyarakat desa Genggelang beralih profesi menjadi menjadi petani kakao.

Hingga saat ini kakao menjadi komoditi terbesar di Kabupaten Lombok Utara, dan Desa Genggelang menjadi penyumbangg kakao paling dominan.

Namun perjalanan hidup petani kakao di Desa Genggelang tak semulus yang dibayangkan. Para petani sempat vakum karena harga kakao yang sangat murah yakni Rp 500 hingga Rp 1.000 rupiah perkilogramnya.

Harga yang murah membuat para petani pesimis. Hal ini membuat mereka beranggapan kakao bukanlah komoditi yang menjamin perekonomian mereka, sehingga mereka menebangnya dan beralin menanam kopi dan vanili. 

Namun sebagian petani masih bertahan karena kakao saat itu bisa panen 2 kali dalam sebulan.  Mereka yang tidak menebang berfikir meskipun kakao murah namun bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka sehar-hari.

“Karena tidak perlu menunggu lama untuk panen,” sambungnya.

Namun sejak tahun 1998 terjadi peningkatan harga jual yang sangat signifikan. Harga kakao kering paling rendah mencapai Rp 20 perkilogramnya. Hal ini membuat petani yang dulunya menebang beralih kembali menanam kakao.

Adanya sistem fermentasi membuat harga kakao semakin melonjak drastis mencapai 50 persen dari harga sebelum di fermentasi. Harga semula Rp 20 perkilogram melonjak menjadi Rp 50 perkilogramnya.

Harga tersebut menjadi lebih tinggi karena biji yang difermentasi merupakan biji kakao pilihan. Bahkan alatnyapun sesuai standar. Proses penjualannya pun tidak boleh menggunakan terpal atau sejenisnya.

Fermentasi dilakukan selama lima malam empat hari. Biji terbaik yang di sortir kemudian dimasukan dalam kotak fermentasi.  Pada hari kedua, biji kakao tersebut dibalik dan didiamkan selama dua hari. Di hari kelima, biji kakao tersebut kemudian dijemur. 

“Tidak boleh sembarangan kalau dijemur, karena akan merubah kualitas, baik rasa maupun aroma,” tuturnya.

Sejumlah lembaga penelitian seperti Lipi dan Pusdikota yang meneliti kualitas kakao di desa Genggelang. Hasil penelitian tersebut cukup mencengangkan, buah kakao desa Genggelang masuk dalam kategori grade A++, bahkan lebih baik dari yang ada di Jember Jawa Timur.

“Bahkan lebih baik dari yang di Jembar dan daerah lainnya,” tukasnya.

Kakao di desa Genggelang memiliki dua jenis, kakao merah dan hijau. Kakao merah memiiki rasa buah yang cukup nikmat dibandingkan kakao hijau, dari segi buah kakao merah mendominasi namun petani sulit untuk memetakan karena buahnya memiliki kulaitas terbaik.

“Dua-duanya sama-sama memiliki kualitas yang bagus,” tegasnya.

Perbedaan tersebut dipengaruhi faktor geografis dan pola pembudidayaan kakao itu sendiri. Di daerah lain, kakako dijadikan sebagai tanaman utama dan diberi stu tanaman pelindung. Berbeda dengan desa Genggelang, tanaman pelindungnya beraneka macam. Mulai dari pisang, kelapa hingga durian. Pola tanam campur sari inilah yang memberikan efek baik bagi kualitas kakao di daerah ini.

“Proses alamiah ini yang membuat kualitasnya sangat baik,” ujarnya.

Sementara ini, pilot projek kampung kakao masih dipusatkan di satu dusun yakni dusun Senara. di dusun tersebut terdapat hampir 100 hektar lahan berisikan tanaman kakao. Kampung cokelat saai ini masih dikelola oleh kelompok tani bunga mekar.

Kampung cokelat saat ini masih dalam proses pembangunan. Rencananya di kampung ini tidak hanya perkebunan kakao, pemerintah akan membangun beberapa fasilitas pendukung seperti jome stay, gerai cokelat, berugak santai bagi wisatawan yang ingin menikmati buah kakao dan fasilitas kuliner lainnya.

“Semua yang dibutuhkan wisatawan aka nada nantinya,” ujar Hairil.

Kedepan, Kampung Cokelat rencananya akan menjadi salah satu destinasi wisata, khususnya wisata oleh-oleh khas Lombok Utara selain wisata air terjun.

Komentar atas Melirik Potensi Kampung Coklat diDesa Genggelang

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah Pengunjung

Lokasi Genggelang

tampilkan dalam peta lebih besar